Rabu, 18 Juli 2012

Magic Love in Toys Store

Di antara bulan Juli dan Agustus waktunya anak-anak memulai kehidupannya yang baru setelah libur cukup panjang. Ada yang kesenangan karena bisa naik kelas, ada yang kesal karena tidak bisa masuk ke sekolah yang diinginkan, ada juga yang mempersiapkan diri untuk mengemban ilmu di bangku kuliah dan merasa lega karena akhirnya meninggalkan bangku SMA beserta baju putih abu-abunya. Jalanan yang tadinya cukup sepi, kini menjadi semakin ramai dan memadatkan jalan Jakarta yang sudah cukup padat.

                     Di sebuah Perumahan elite di kawasan Tanggerang, seorang gadis dengan paras cantik, bertubuh mungil dan berambut ikal panjang keemas-emasan tengah bersiap-siap untuk pergi. Tak lama, sebuah mobil lamborghini murcielago roadster berwarna hitam keluar dari bagasi rumah dengan gadis cantik itu di dalamnya. Rumah bernuansa eropa dengan tambahan model classic vintage pada sudut-sudut dinding luar yang membatasi jalanan dan halaman dalam rumah itu nampak begitu sepi. Hanya ada beberapa satpam dan beberapa tukang kebun yang sedang bekerja menemani kesunyian rumah bernuansa vintage itu. Begitu mobil Lamborghini seri murcielago roadster itu keluar dari tempat dia parkir tadi, gadis cantik yang mengemudikannya langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang melintasi jalanan yang mulai renggang karena jam berangkat kerja dan berangkat sekolah sudah hampir selesai. Mobil hitam itu kemudian masuk tol menuju kota Bogor.

                       Setelah sekitar dua jam perjalanan, mobil Lamborghini hitam itu kemudian memasuki area terminal baranang siang dan kemudian menuju ke arah Sempur lalu mengambil laju ke bundaran air mancur kemudian melewati rel kereta api dan akhirnya melewati jalan manunggal. Mobil Lamborghini hitam itu menarik perhatian banyak mata. Orang-orang yang melihat mobil cantik itu bertanya-tanya siapa yang sedang berada di balik kaca hitam yang melapisi setiap jendela mobil itu. Setelah melewati sebuah kantor polisi, mobil Lamborghini itu tanpa ragu berbelok masuk ke sebuah gang yang tidak begitu sempit namun cukup lebar untuk dua mobil dan mengikuti lajur gang itu lalu masuk gang kecil yang kali ini hanya sanggup menampung satu mobil lalu berhenti di sebuah rumah yang terlihat cukup tua tapi masih tetap kokoh di setiap bagiannya. Setelah cukup nyaman dengan posisi parkir yang ditempati mobil itu, gadis cantik yang sejak tadi mengemudikan mobil itu turun dengan anggunnya dan kemudian menutup juga mengunci mobilnya dengan otomatis.

                        Gadis itu cukup lama berdiam diri memandang rumah tua di hadapannya sebelum akhirnya memutuskan untuk masuk. Dia menarik nafas panjang, lalu akhirnya membuka gerbang tua itu yang diiringi suara denyitan seakan menandakan bahwa gerbang itu sudah cukup tua dan rapuh. Baru melangkahkan kakinya masuk, gadis itu di kejutkan dengan sosok wanita tua yang sedang berdiri tepat di depannya.
                         " Alexis!" Pekik wanita tua itu seakan tidak menyangka akan keberadaan gadis cantik itu.
                         " Mom, ini Alexis." Kata gadis cantik itu dengan nada sendu.
                         " Alexis, benar ini kau? Gadis kecil yang dulu aku rawat dan aku besarkan?"
                         " Ini aku, Mom. Ini Alexis. Aku Alexis Cordelia. Bukankah nama itu mama yang berikan padaku?" Kata Alexis sambil berjalan mendekati wanita tua yang ternyata adalah ibunya.
                         " Alexis, putriku." Kata ibunya sambil mendekapnya erat. Alexis menangis tersedu-sedu seakan sudah cukup lama dia tidak merasakan pelukan hangat itu. Sekitar dua menit mereka saling berpelukan dan menangis, mnegeluarkan semua rasa rindu dan kebahagiaan yang sempat mereka lupakan.
                         " Ayo nak, kita masuk ke dalam. Ibu ingin sekali mendengar ceritamu." Kata ibunya lembut.
                         " Mom, apa benar Papa sudah meninggal?" Tanya Alexis parau.
                         " Iya, Alexis. Papa sudah di panggil Tuhan setengah tahun yang lalu. Waktu itu, aku menyuruh Jason untuk mencari keberadaanmu, tapi kata Papamu, kami tidak boleh memberitahukanmu tentang keadaannya. Dia tidak ingin kau kuatir lalu meninggalkan karirmu juga suami dan anak-anakmu."
                        " Tapi mom, aku juga harus tahu tentang penyakit papa. Kalau kalian memberi tahu papa, aku pasti akan bawa papa berobat ke Jerman. Pekerjaan bisa aku tinggalkan, tapi Papa? Papa hanya satu di dunia ini." Kata Alexis yang kemudian disusul dengan tangisan. Ibunya tidak bisa berkata apa-apa. Ibunya hanya memeluknya dan mengusap punggungnya sambil mengingat kejadian 10 tahun yang lalu.

                                             #                                  #                                #

10 Tahun Lalu.

                        " Mom, Paps, Alexis memutuskan untuk pindah bersama Daddy ke Itali. Alexis memutuskan untuk mengambil mata kuliah Fashion Design di Milan. Alexis dan Clement juga memutuskan untuk menikah tahun ini agar kami bisa berangkat ke Itali bersama-sama awal tahun depan." Jelas Alexis sambil tersenyum gembira.
                      


                       Aku tidak bisa melarangnya, karena aku tidak ingin merusak kebahagiaannya. Aku tidak ingin jauh dari Alexis, tapi putriku sudah cukup dewasa untuk menentukan jalan hidupnya. Calon suami yang dia pilihpun membuat kami sekeluarga bangga. Putriku yang cantik, banyak pria yang tergila-gila padanya, tapi dia selalu mengabaikannya, tapi kemudian Alexis bertemu dengan seorang Pria berusia 33 tahun. Dia jatuh cinta kepada Clement yang saat itu berstatus duda anak satu. Clement yang bernama lengkap, Clement Millard Khalfani ini berusia 33 tahun. Istrinya meninggal karena Kanker di saat usia putrinya - Aerilyn Bellvani Hannah - masih berumur 1 tahun. Clement adalah seorang Dokter di salah satu Rumah Sakit swasta di Jakarta. Alexis pertama kali mengenal Clement pada saat Aerilyn - Putri dari Clement - terpisah dari ayahnya saat sedang melihat sebuah boneka beruang besar berwarna coklat tua yang sedang mendekap beruang kecil di tengahnya. Alexis yang saat itu bekerja sebagai Manager di perusahaan mainan itu melihat Aerilyn yang sedang melihat boneka beruang itu dengan serius. Alexis memang sangat suka dengan anak kecil. Tanpa banyak tanya, Aerilyn langsung menyuruh salah satu SPG yang sedang merapikan beberapa mainan yang akan di jual untuk memasukkan harga boneka itu ke dalam billingnya. Entah kenapa, Alexis merasa dekat dengan anak kecil itu. Di ambilnya boneka beruang itu, lalu diberikannya beruang itu kepada Aerilyn. Aerilyn tidak langsung menerima, dia memandang Alexis dengan mata bulatnya cukup lama. Alexis tersenyum.
                         " Hai, nama kamu siapa?" Tanya Alexis mencoba menyapa gadis kecil itu.
                         " Bell, kak." Kata Aerilyn.
                         " Bell sama siapa ke sini?"
                         " Bell sama daddy. Tapi Daddy pergi - dengan nada cadel - ga tahu kemana."
                         " Daddy kamu pasti kuatir sekali, Bell. Kakak temani kamu ke informasi ya." Ajak Alexis.
                         " Tapi Bell masih pengen liat boneka itu." Kata Aerilyn sambil menunjuk boneka beruang yang dipegang Alexis.
                         " Bell mau boneka ini?" Tanya Alexis lembut.
                         " Bell mau. Tapi Daddy bilang ga boleh ambil sebelum bayar." Kata Aeriltyn lugu.
                         " Ini sudah kakak bayar kok. Ini kakak beli buat Bell supaya Bell tidak sedih lagi." Kata Alexis sambil menyerahkan boneka beruang itu kepada Aerilyn. Belum Alexis membawa Aerilyn ke bagian informasi, Clement datang.
                         " Bellvani!" Teriak Clement.
                         " Daddy. I am sorry, daddy." Kata Aerilyn hampir menangis.
                         " It's okay, Bells. Daddy yang salah karena tidak benar menjaga kamu. Syukurlah kamu ketemu. Kalau Daddy sampai kehilangan kamu, Daddy ga akan pernah memaafkan diri daddy."
                         " Syukurlah ya, Bell." Kata Alexis sambil tersenyum.
                         " Terima kasih karena sudah menemani anak saya." Kata Clement sambil memohon maaf.
                         " Sama-sama pak." Kata Alexis lalu jongkok dan mengusap kepala Aerilyn. " Lain kali hati-hati ya. oh iya, beruangnya di jaga ya." Sambung Alexis sambil mengedipkan matanya ke Bella.
                         " Kakak cantik, ma aci." Teriak Aerilyn.






To be continued...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar