Bogor, 7 Mei 2012
Cuaca hari mendung
banget. Matahari seakan seperti bersembunyi dan tak ingin keluar dari balik
awan. Cuaca begini membuat aku merasa tidak nyaman untuk bekerja ataupun pergi
keluar. Mau online pun tidak bisa karena pulsa modemku habis, bbm sepi,
facebook off, mau YM-an pun bosan. Ngomong-ngomong dari tadi sepertinya aku
hanya mengeluh ya? Membosankan! Padahal weekend kemarin rasanya begitu
menyenangkan. Snorkeling di Tidung Island, menikmati sunset di tengah lautan
dan makan ikan bakar di pinggir pantai, rasanya begitu nyaman dan penuh
kebersamaan. Mengingat kemarin rasanya aku akan sangat merindukan setiap detik
canda tawa bersama keluargaku, apalagi kalau tahun ini aku jadi menikah, pasti
aku akan susah bertemu dengan orang tuaku juga adikku lagi. Pernikahan yang tak
berestu, itulah yang mengusik pikiranku. Karena keterbatasan kekasihku, orang
tuaku merasa dia tidak pantas masuk dalam lingkup keluargaku. Memikirkan
semuanya kembali membuat hatiku sakit dan mengalami kepedihan yang sangat
dalam. Aku hanya ingin bahagia, meskipun bohong kalau aku tidak butuh uang,
karena tanpa uang mana bisa kami hidup. Tapi prioritas utamaku bukan uang,
melainkan kebahagiaan, keharmonisan, ketenangan dan kedamaian. Terkadang aku
merasa ragu, apakah dia memang yang terbaik untukku, apakah memang dia jodohku,
atau apakah aku akan bahagia bersamanya. Aku tidak bisa menjamin apa-apa,
karena aku sudah pernah merasakan pengkhianatan yang jauh lebih menyakitkan
dari yang aku rasakan saat ini. Papa angkatku yang sejak kecil menjadi figur
seorang ayah yang sempurna, yang sangat mencintai keluarganya, yang begitu
bertanggung jawab, ternyata hanya topeng belaka. Selama bertahun-tahun kami
dikhianati, kami di bohongi mentah-mentah. Papa yang berselingkuh di belakang mama
dan yang lebih menyakitkan, papa berselingkuh tak jauh dari rumah kami saat
ini. Ya, Tuhan, apa bisa lagi aku membangun kepercayaanku kepada Reno,
kekasihku. Aku sudah melihat bagaimana orang bisa menderita batinnya karena
lebih mementingkan harta dibanding kebahagiaannya. Menikah dengan embel-embel
dia kaya raya, tapi di pertengahan hidupnya dia justru di khianati, atau
tadinya hidup berlimpah harta tapi menderita bahkan jadi gila karena terlilit
hutang atau menderita penyakit parah. Tidak bisa ku pungkiri bahwa
pengkhianatan bisa terjadi oleh siapa saja, kapan saja dan dimana saja. Aku
belajar dari pengalamanku bahwa aku tidak bisa mempercayai satu orang pun di
dunia ini kecuali Tuhan. Hanya saja, dalam semua pengalamanku ini, ada satu
pengalaman cinta sejati yang bertahan hingga detik ini.
THE BEGINNING
Namaku Tierra Athena
Frederica. Aku lahir di Indonesia dan di besarkan oleh keluarga asal Batak,
Sumatera Utara. Aku senang dilahirkan di dunia ini dan menjadi bagian dari
keluargaku yang sekarang. Bagaimanapun aku harus bersyukur kepada Tuhan karena mereka
telah membesarkan aku juga menyekolahkan aku hingga detik ini. Meskipun aku
bukan putri kandung mereka, mereka tetap membesarkan aku dengan penuh kasih
sayang. Ibuku meninggal beberapa tahun yang lalu tak lama setelah sahabatku
meninggal dunia. Aku memang belum mengenal dekat bagaimana pribadi beliau, tapi
waktu yang singkat itu membuat aku cukup bahagia karena telah diizinkan
mengenal sedikit hal tentang sosoknya.
Dua puluh satu tahun yang lalu aku di adopsi. Aku di adopsi oleh keluargaku
sejak aku berumur 3 bulan dan aku di ambil di panti asuhan. Aku bertemu dengan
orang tua kandungku pertama kali saat aku masih duduk di bangku SMP, tapi aku
masih belum tahu kalau mereka adalah orang tua kandungku, bahkan aku belum tahu
kalau aku adalah anak angkat. Pertama aku bertemu dengan ibu kandungku, aku
merasa sangat dekat dengannya dan merasa bahwa kami sudah lama mengenal.
Sayang, pertemuan itu hanya pertemuan singkat.
Pada saat aku berumur 19 tahun, untuk pertama kalinya orang tuaku
membongkar kenyataan bahwa ternyata aku bukan anak kandung mereka. Semua
pernyataan itu dikatakan karena aku kabur dari rumah dan ketahuan bahwa selama
kabur aku tinggal di rumah Reno, jadi orang tua angkatku memutuskan untuk
membeberkan semuanya. Aku kaget memang, tapi entah mengapa tidak terlalu
terkejut mendengarnya, seakan-akan aku sudah tahu sejak lama bahwa aku bukan
anak kandung mereka. Akhirnya setelah mereka membeberkan jati diriku yang mereka
juga tidak tahu pasti, aku memutuskan untuk mencari tahu sendiri kebenarannya. Selama
satu tahun aku mencari keberadaan orang tua kandungku. Aku mendatangi panti
asuhan yang berada di bawah asuhan gereja Katolik tempat dulu aku di adopsi itu
sendirian. Aku mencari tahu bagaimana aku bisa di titipkan di panti itu. Di
sana aku bertemu dengan Suster Regina yang dulu, katanya menemukan aku. Suster
Regina sudah cukup tua dan dia tidak banyak ingat tentang kejadian 19 tahun
yang lalu di saat aku di titipkan di panti itu. Selama dua jam dia mencari data
tentang diriku dan akhirnya dia menemukan berkas adopsiku dulu. Dia bilang aku
dititipkan oleh seorang laki-laki yang usianya sekitar 50 tahunan. Suster
Regina tidak tahu kejadiannya, karena pada saat itu hanya ada satu suster yang
melihat, tapi suster itu tidak tahu kalau ternyata pria itu membawa seorang
bayi karena pria itu terlihat sangat terburu-buru. Menurut Suster Regina, beliau menemukanku pertama kali
di bawah patung Bunda Maria, di dalam sebuah keranjang bayi yang perkiraannya
pasti punya orang berada. Dia dan suster lain menduga kalau bayi itu, yang tak
lain adalah aku, dibawa oleh pria yang kedatangannya juga kepergiannya seperti
orang yang mencurigakan itu. Di dalam keranjang bayi itu, Suster Regina mengakui
ada sebuah liontin dan sebuah kotak – yang menurutnya seperti kotak perhiasan
tua – akan tetapi tidak dibawa oleh orang tua angkatku pada saat aku diadopsi.
Suster Regina akhirnya memberikan kotak dan liontin yang dulu ia temukan
dalam keranjang bayiku. Aku mengucapkan terima kasih banyak kepada Suster
Regina, meskipun aku sedikit merasa kecewa karena tidak ada titik temu tentang
siapa orang tuaku dan alasan kenapa aku dibuang.
Dalam perjalanan pulang, aku melihat liontin itu secara seksama. Saat aku
melihat liontin itu, ternyata di dalam liontin itu tersimpan sebuah foto tua.
Foto seorang wanita yang aku rasa masih berkebangsaan Asia dan laki-laki yang
terlihat seperti orang asing, Eropa mungkin. Pada saat aku melihat foto wanita
dalam liontin itu, aku merasa seperti mengalami de javu. Dalam ingatanku seakan
timbul potongan-potongan wajah yang tidak asing bagiku dan dalam sekejap aku
seperti yakin bahwa wanita itu adalah Nyonya Kirishima. Nyonya Kirishima adalah
wanita cantik asal Jepang yang dulu pernah bertemu denganku dan beliau adalah
bibi dari sahabatku, Roberto. Dalam hatiku berkecamuk perasaan yang aku sendiri
tidak mengerti. Bagaimana mungkin Nyonya Kirishima adalah ibuku, dan kenapa
beliau membuang aku hingga sejauh ini? Bukankah dulu ia pernah bercerita bahwa
semua anaknya lahir di Eropa? Aku bingung!
Dalam kebingunganku, aku menyadari bahwa ada satu kotak lagi yang belum aku
buka. Belum sempat aku buka, aku di sadarkan oleh supir taxi yang sedari tadi
bersamaku. Sesampainya di hotel tempat aku menginap, aku langsung ke kamar dan
membuka kotak yang tadi terputus di dalam taxi. Sayang, di saat aku hendak
membuka kotak itu, lagi-lagi ada yang menghambat. Handphone ku berdering,
mendendangkan lagu Adele – Someone like you.
“ Tier, kamu dimana?” Tanya Reno di sebrang telepon.
“ Aku baru sampai di hotel. Maaf aku
belum sempat menghubungimu.”
“ Tak apa. Aku tahu kamu butuh waktu untuk sendiri. Jadi sudah ada
perkembangan? Apa kau menemukan sesuatu di Panti?”
“ Belum terlalu jelas. Semuanya masih samar-samar. Reno, bisakah kau
kesini?”
“ Tentu.” Katanya sebelum memutuskan hubungan telepon denganku.
Aku menghela nafas. Aku rasa memang lebih baik kalau aku menenangkan diri
dengan mandi sebelum aku mencari tahu apa isi kotak itu. Otakku terlalu kusut untuk
berpikir. Saking kusutnya otakku, aku sampai lupa dimana aku menaruh peralatan
mandiku. Sembari mempersiapkan semuanya, aku menyalakan air dan mengisi bath
tub. Aku rasa berendam sambil menghirup aroma teraphy bisa sedikit menenangkan
saraf-sarafku yang sejak tadi terasa begitu tegang dan di temani oleh suara
Agnes Monica yang mengalun melalui i-pod ku.
Selama kurang lebih setengah jam aku berada di dalam kamar mandi dan aku rasa
tubuh juga pikiranku sudah cukup rileks. Aku memutuskan untuk membersihkan diri
lalu berpakaian. Seperti biasa, yang aku gunakan tak lain adalah tank top dan
short pants bahan. Setelah berpakaian dan mengeringkan rambut, aku mendengar
bel dari balik pintu kamar. Reno sudah sampai di tempat aku menginap. Karena
aku merasa bosan di kamar, aku memutuskan untuk membawa kotak itu ke cafe hotel
sekaligus menyantap makan malam bersama Reno. Di dalam lift hingga sesampainya
aku di cafe hotel, aku menceritakan perjalananku hari ini. Reno nampak kuatir
dengan kondisi psikisku. Bagi Reno, tak seharusnya aku menanggung semua ini
sendirian. Aku tahu dia begitu karena peduli padaku, hanya saja aku tak ingin
merepotkan orang lain. Pembicaraanku terhenti ketika seorang waitress
menghampiri kami dengan buku menu di tangannya. Setelah memesan makanan, aku
memutuskan untuk membuka isi kotak itu bersama dengan Reno yang duduk di
sampingku. Reno meyakinkanku bahwa aku bisa melewati apapun yang nantinya
mungkin aku temui dalam kotak tua itu. Aku menarik nafas dalam-dalam sebelum
membukanya. Perlahan aku membuka isi kotak itu dan aku menemukan beberapa
perhiasan juga sepucuk surat beserta beberapa lembar foto. Tanganku langsung
mengarah kepada surat yang ada di dalamnya. Reno yang berada di sampingku hanya
terdiam sambil mencengkram erat pundakku. Dalam surat itu aku menemukan tulisan
tua dalam bahasa Inggris yang bertuliskan,
Dear my
lovely daughter,
When you
read this letter, that’s mean you’ve known who you are. I never meant to leave
you where ever you’ve been found, specially with people who I don’t know. But I
feel glad because I am sure you’re fine. I don’t know where my brother leave
you, because it will break the rule. This is not what I and your mother want,
but this is your destiny. You can’t run away from your fate. I know this is
like something non sense, but I can’t explain this now. I’ll explain everything
to you when I meet you (one day). You can angry or blame it to me, but please
don’t blame your mother. She never and ever want this happened. Please let us
know that you’ve read this letter. You can send us a signal. Just activated the
hand watch by push the sign “aktiviert”.
With
love,
Your
Family.
Setelah selesai membaca surat itu, aku segera
mencari jam tangan yang dimaksud oleh orang dalam surat itu – yang aku yakini
adalah ayahku – untuk mengaktifkan sinyal yang ia maksud. Tak perlu mencari
lama, jam itu segera aku temukan di samping tumpukan foto yang belum sempat aku
lihat. Pelan-pelan aku membuka kotak kecil tempat jam itu disimpan, lalu
seketika itu juga melihat tombol dengan tulisan active dalam bahasa Jerman.
Reno yang berada di sampingku merangkul pundakku dengan erat sebagai simbol
bahwa dia mendukungku. Meski ada sedikit keraguan di benakku, aku tetap menekan
tombol itu. Ketika aku menekan tombol itu, tiba-tiba aku merasakan tangan Reno
yang sejak tadi meremas pundakku terkulai lemas dan seketika itu juga terdengar
suara keras dari ruangan. Aku tidak mengerti kenapa semua orang tiba-tiba
terkulai seperti pingsan. Tidak ada satu pun orang yang sadar kecuali aku. Aku
mencoba untuk menyadarkan diriku dengan mencubit pipiku bahkan memukulkan
sendok ke wajahku. Aku tidak mimpi! Aku terdiam dan tiba-tiba aku melihat
sekujur tubuhku seakan terbungkus sebuah sinar dan aku tidak ingat apapun lagi.
“ Tier, Tier,
kamu ga apa-apa?” Samar-samar aku mendengar suara Reno yang sedang
mengguncang-guncangkan tubuhku pelan. Perlahan aku membuka mataku dan mendapati
diriku masih berada di cafe hotel. Dengan gerakan cepat aku duduk tegap dan
melihat sekelilingku, tapi kepalaku tiba-tiba seakan berdenyut. Kupijit pelan
kepalaku dan memutar otak mengingat apa yang sebenarnya terjadi. “ Tierra
sayang, kamu ga apa-apa kan?” Tanya Reno sekali lagi seakan meyakinkanku.
“ Tak apa. Aku
rasa.” Kataku ragu. Setelah menutup mata dan menarik nafas dalam-dalam, aku
mencoba tenang dan bersikap rileks. Aku merasa ada yang berbeda dari tubuhku.
Betul saja! Rambutku berbeda begitu juga dengan mataku yang seakan buram saat
aku mengenakan kacamataku. Belum sempat mengatakan apa-apa, Reno kembali bertanya,
“ Sejak kapan kau menggunakan kacamata, Tierra?” dan kali ini pertanyaannya
membuatku sedikit terkejut.
Dengan refleks,
aku langsung merenggut tas yang ada di sampingku dan mengambil kaca kecil dari
tas make up ku. Kulihat perlahan mataku, hidung, bibir juga rambutku. Hidung
dan bibirku tidak ada perubahan, tapi mataku berubah menjadi biru seperti biru
laut dan rambutku berubah menjadi ikal panjang berwarna keemasan. Saat itu juga
aku tersadar apa yang sebenarnya terjadi. Aku langsung mengambil kotak yang
sejak tadi, sepertinya di letakkan Reno di samping kotak tissue. Belum aku
berkutit dengan isinya, lagi, Reno menegurku dan memperlihatkan makanan yang
sepertinya sudah agak dingin. Dengan pasrah aku terpaksa memakan makanan yang
telah di hidangkan meski perutku sudah tak lagi merasa lapar. Kepalaku hanya
dipenuhi dengan teka-teki sekarang. Selama makan Reno mencoba mengajakku
berbicara, namun pikiranku tetap tidak bisa fokus. Rasanya aku ingin balik ke
kamar dan menghempaskan badanku ke kasur. Entah karena aku yang sejak tadi
tidak nyambung atau karena Reno mengerti keinginanku, dia mengajakku untuk
segera kembali ke kamar.
“ Tierra, kau mau
aku temani atau aku pulang saja?” Tanya Reno saat mengantarku masuk.
“ Temani aku ya.
Aku sedang tidak ingin sendirian.” Pintaku.
“ Baiklah. Kalau
begitu istirahatlah, aku mau mandi dulu.” Kata Reno sembari berlalu masuk ke
kamar mandi.
Akhirnya aku
menghempaskan badanku ke kasur dan kembali berkutit dengan kotak tua itu. Aku
mencari-cari jam yang di ceritakan dalm surat itu, tapi tak bisa aku temukan.
Hanya saja, aku menemukan kalung jam tua yang sedikit karatan dengan ukiran
Tierra di atasnya. Aku juga merasa, bahwa kalung itu adalah jam yang di maksud
di surat itu. Aku menyimpan kembali kalung tua itu dan beralih melihat
foto-foto tua yang ada di dalamnya. Di foto itu aku mendapati foto wanita yang
sama dengan yang ada di kalungku, ya itu adalah foto Nyonya Kirishima. Kali ini
dia tidak sendirian, ada seorang laki-laki yang aku kenal betul sebagai suami
nyonya Kirishima dan tiga anak laki-laki juga satu bayi perempuan. Yang satu
mirip sekali dengan suami nyonya Kirishima, umurnya mungkin enam tahun dan yang
satunya percampuran antara nyonya Kirishima dan suaminya dan usianya mungkin
tiga tahun dan yang satu lagi masih bayi begitu juga yang perempuan. Saat melihat
bayi perempuan itu aku seperti melihat cermin. Matanya, hidungnya dan bibirnya
mirip sekali denganku. Mataku kemudian tertuju kepada tulisan di bagian kiri
bawah, “ Kyoko, Frederick, Frans, Rei, Tierra dan James. 9 Oktober 1991. “
Melihat tanggal itu, pikiranku seakan kembali pada kejadian 19 tahun yang lalu.
Tanggal 13 Oktober 1991, aku di temukan oleh Suster Regina dan akhirnya tanggal
itu menjadi tanggal lahirku hingga sekarang ini, jadi itu berarti foto ini
dibuat sebelum aku di bawa ke Panti Asuhan ‘Saint Monica’. Ketika aku membalik
foto itu, aku melihat sebuah tulisan, “ This is my family picture. My last memory with my daughter, my everything.
I never though that the story must be happened with her. My Tier, I am so sorry
to give you this fate. I love you more than everything in this world and I will
pay this with my life. I will never and ever forgive myself because of this.
Love, Kyoko.”
Air mataku
menetes dan kali ini tidak terbendung lagi. Aku rasa pikiranku bahwa aku tidak
diinginkan salah besar. Meski aku waktu itu hanya memiliki waktu sebentar, aku
tahu bahwa nyonya Kirishima yang kali ini aku yakini bahwa dialah ibuku, adalah
orang yang baik dan tidak mungkin ia merelakan aku begitu saja. Aku ingin
bertemu dengannya, bertemu dengan Ibu, Ayah juga saudara-saudaraku. Tangisku
pecah. Aku menyadari Reno memelukku dengan erat dan tangisku semakin
menjadi-jadi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar