Selasa, 03 Juli 2012

Between Love and Life


Bogor, 7 Mei 2012
Cuaca hari mendung banget. Matahari seakan seperti bersembunyi dan tak ingin keluar dari balik awan. Cuaca begini membuat aku merasa tidak nyaman untuk bekerja ataupun pergi keluar. Mau online pun tidak bisa karena pulsa modemku habis, bbm sepi, facebook off, mau YM-an pun bosan. Ngomong-ngomong dari tadi sepertinya aku hanya mengeluh ya? Membosankan! Padahal weekend kemarin rasanya begitu menyenangkan. Snorkeling di Tidung Island, menikmati sunset di tengah lautan dan makan ikan bakar di pinggir pantai, rasanya begitu nyaman dan penuh kebersamaan. Mengingat kemarin rasanya aku akan sangat merindukan setiap detik canda tawa bersama keluargaku, apalagi kalau tahun ini aku jadi menikah, pasti aku akan susah bertemu dengan orang tuaku juga adikku lagi. Pernikahan yang tak berestu, itulah yang mengusik pikiranku. Karena keterbatasan kekasihku, orang tuaku merasa dia tidak pantas masuk dalam lingkup keluargaku. Memikirkan semuanya kembali membuat hatiku sakit dan mengalami kepedihan yang sangat dalam. Aku hanya ingin bahagia, meskipun bohong kalau aku tidak butuh uang, karena tanpa uang mana bisa kami hidup. Tapi prioritas utamaku bukan uang, melainkan kebahagiaan, keharmonisan, ketenangan dan kedamaian. Terkadang aku merasa ragu, apakah dia memang yang terbaik untukku, apakah memang dia jodohku, atau apakah aku akan bahagia bersamanya. Aku tidak bisa menjamin apa-apa, karena aku sudah pernah merasakan pengkhianatan yang jauh lebih menyakitkan dari yang aku rasakan saat ini. Papa angkatku yang sejak kecil menjadi figur seorang ayah yang sempurna, yang sangat mencintai keluarganya, yang begitu bertanggung jawab, ternyata hanya topeng belaka. Selama bertahun-tahun kami dikhianati, kami di bohongi mentah-mentah. Papa yang berselingkuh di belakang mama dan yang lebih menyakitkan, papa berselingkuh tak jauh dari rumah kami saat ini. Ya, Tuhan, apa bisa lagi aku membangun kepercayaanku kepada Reno, kekasihku. Aku sudah melihat bagaimana orang bisa menderita batinnya karena lebih mementingkan harta dibanding kebahagiaannya. Menikah dengan embel-embel dia kaya raya, tapi di pertengahan hidupnya dia justru di khianati, atau tadinya hidup berlimpah harta tapi menderita bahkan jadi gila karena terlilit hutang atau menderita penyakit parah. Tidak bisa ku pungkiri bahwa pengkhianatan bisa terjadi oleh siapa saja, kapan saja dan dimana saja. Aku belajar dari pengalamanku bahwa aku tidak bisa mempercayai satu orang pun di dunia ini kecuali Tuhan. Hanya saja, dalam semua pengalamanku ini, ada satu pengalaman cinta sejati yang bertahan hingga detik ini.









THE BEGINNING

Namaku Tierra Athena Frederica. Aku lahir di Indonesia dan di besarkan oleh keluarga asal Batak, Sumatera Utara. Aku senang dilahirkan di dunia ini dan menjadi bagian dari keluargaku yang sekarang. Bagaimanapun aku harus bersyukur kepada Tuhan karena mereka telah membesarkan aku juga menyekolahkan aku hingga detik ini. Meskipun aku bukan putri kandung mereka, mereka tetap membesarkan aku dengan penuh kasih sayang. Ibuku meninggal beberapa tahun yang lalu tak lama setelah sahabatku meninggal dunia. Aku memang belum mengenal dekat bagaimana pribadi beliau, tapi waktu yang singkat itu membuat aku cukup bahagia karena telah diizinkan mengenal sedikit hal tentang sosoknya.

                                                                    

Dua puluh satu tahun yang lalu aku di adopsi. Aku di adopsi oleh keluargaku sejak aku berumur 3 bulan dan aku di ambil di panti asuhan. Aku bertemu dengan orang tua kandungku pertama kali saat aku masih duduk di bangku SMP, tapi aku masih belum tahu kalau mereka adalah orang tua kandungku, bahkan aku belum tahu kalau aku adalah anak angkat. Pertama aku bertemu dengan ibu kandungku, aku merasa sangat dekat dengannya dan merasa bahwa kami sudah lama mengenal. Sayang, pertemuan itu hanya pertemuan singkat.
Pada saat aku berumur 19 tahun, untuk pertama kalinya orang tuaku membongkar kenyataan bahwa ternyata aku bukan anak kandung mereka. Semua pernyataan itu dikatakan karena aku kabur dari rumah dan ketahuan bahwa selama kabur aku tinggal di rumah Reno, jadi orang tua angkatku memutuskan untuk membeberkan semuanya. Aku kaget memang, tapi entah mengapa tidak terlalu terkejut mendengarnya, seakan-akan aku sudah tahu sejak lama bahwa aku bukan anak kandung mereka. Akhirnya setelah mereka membeberkan jati diriku yang mereka juga tidak tahu pasti, aku memutuskan untuk mencari tahu sendiri kebenarannya. Selama satu tahun aku mencari keberadaan orang tua kandungku. Aku mendatangi panti asuhan yang berada di bawah asuhan gereja Katolik tempat dulu aku di adopsi itu sendirian. Aku mencari tahu bagaimana aku bisa di titipkan di panti itu. Di sana aku bertemu dengan Suster Regina yang dulu, katanya menemukan aku. Suster Regina sudah cukup tua dan dia tidak banyak ingat tentang kejadian 19 tahun yang lalu di saat aku di titipkan di panti itu. Selama dua jam dia mencari data tentang diriku dan akhirnya dia menemukan berkas adopsiku dulu. Dia bilang aku dititipkan oleh seorang laki-laki yang usianya sekitar 50 tahunan. Suster Regina tidak tahu kejadiannya, karena pada saat itu hanya ada satu suster yang melihat, tapi suster itu tidak tahu kalau ternyata pria itu membawa seorang bayi karena pria itu terlihat sangat terburu-buru. Menurut  Suster Regina, beliau menemukanku pertama kali di bawah patung Bunda Maria, di dalam sebuah keranjang bayi yang perkiraannya pasti punya orang berada. Dia dan suster lain menduga kalau bayi itu, yang tak lain adalah aku, dibawa oleh pria yang kedatangannya juga kepergiannya seperti orang yang mencurigakan itu. Di dalam keranjang bayi itu, Suster Regina mengakui ada sebuah liontin dan sebuah kotak – yang menurutnya seperti kotak perhiasan tua – akan tetapi tidak dibawa oleh orang tua angkatku pada saat aku diadopsi.
Suster Regina akhirnya memberikan kotak dan liontin yang dulu ia temukan dalam keranjang bayiku. Aku mengucapkan terima kasih banyak kepada Suster Regina, meskipun aku sedikit merasa kecewa karena tidak ada titik temu tentang siapa orang tuaku dan alasan kenapa aku dibuang.
Dalam perjalanan pulang, aku melihat liontin itu secara seksama. Saat aku melihat liontin itu, ternyata di dalam liontin itu tersimpan sebuah foto tua. Foto seorang wanita yang aku rasa masih berkebangsaan Asia dan laki-laki yang terlihat seperti orang asing, Eropa mungkin. Pada saat aku melihat foto wanita dalam liontin itu, aku merasa seperti mengalami de javu. Dalam ingatanku seakan timbul potongan-potongan wajah yang tidak asing bagiku dan dalam sekejap aku seperti yakin bahwa wanita itu adalah Nyonya Kirishima. Nyonya Kirishima adalah wanita cantik asal Jepang yang dulu pernah bertemu denganku dan beliau adalah bibi dari sahabatku, Roberto. Dalam hatiku berkecamuk perasaan yang aku sendiri tidak mengerti. Bagaimana mungkin Nyonya Kirishima adalah ibuku, dan kenapa beliau membuang aku hingga sejauh ini? Bukankah dulu ia pernah bercerita bahwa semua anaknya lahir di Eropa? Aku bingung!
Dalam kebingunganku, aku menyadari bahwa ada satu kotak lagi yang belum aku buka. Belum sempat aku buka, aku di sadarkan oleh supir taxi yang sedari tadi bersamaku. Sesampainya di hotel tempat aku menginap, aku langsung ke kamar dan membuka kotak yang tadi terputus di dalam taxi. Sayang, di saat aku hendak membuka kotak itu, lagi-lagi ada yang menghambat. Handphone ku berdering, mendendangkan lagu Adele – Someone like you.
“ Tier, kamu dimana?” Tanya Reno di sebrang telepon.
 “ Aku baru sampai di hotel. Maaf aku belum sempat menghubungimu.”
“ Tak apa. Aku tahu kamu butuh waktu untuk sendiri. Jadi sudah ada perkembangan? Apa kau menemukan sesuatu di Panti?”
“ Belum terlalu jelas. Semuanya masih samar-samar. Reno, bisakah kau kesini?”
“ Tentu.” Katanya sebelum memutuskan hubungan telepon denganku.
Aku menghela nafas. Aku rasa memang lebih baik kalau aku menenangkan diri dengan mandi sebelum aku mencari tahu apa isi kotak itu. Otakku terlalu kusut untuk berpikir. Saking kusutnya otakku, aku sampai lupa dimana aku menaruh peralatan mandiku. Sembari mempersiapkan semuanya, aku menyalakan air dan mengisi bath tub. Aku rasa berendam sambil menghirup aroma teraphy bisa sedikit menenangkan saraf-sarafku yang sejak tadi terasa begitu tegang dan di temani oleh suara Agnes Monica yang mengalun melalui i-pod ku.
Selama kurang lebih setengah jam aku berada di dalam kamar mandi dan aku rasa tubuh juga pikiranku sudah cukup rileks. Aku memutuskan untuk membersihkan diri lalu berpakaian. Seperti biasa, yang aku gunakan tak lain adalah tank top dan short pants bahan. Setelah berpakaian dan mengeringkan rambut, aku mendengar bel dari balik pintu kamar. Reno sudah sampai di tempat aku menginap. Karena aku merasa bosan di kamar, aku memutuskan untuk membawa kotak itu ke cafe hotel sekaligus menyantap makan malam bersama Reno. Di dalam lift hingga sesampainya aku di cafe hotel, aku menceritakan perjalananku hari ini. Reno nampak kuatir dengan kondisi psikisku. Bagi Reno, tak seharusnya aku menanggung semua ini sendirian. Aku tahu dia begitu karena peduli padaku, hanya saja aku tak ingin merepotkan orang lain. Pembicaraanku terhenti ketika seorang waitress menghampiri kami dengan buku menu di tangannya. Setelah memesan makanan, aku memutuskan untuk membuka isi kotak itu bersama dengan Reno yang duduk di sampingku. Reno meyakinkanku bahwa aku bisa melewati apapun yang nantinya mungkin aku temui dalam kotak tua itu. Aku menarik nafas dalam-dalam sebelum membukanya. Perlahan aku membuka isi kotak itu dan aku menemukan beberapa perhiasan juga sepucuk surat beserta beberapa lembar foto. Tanganku langsung mengarah kepada surat yang ada di dalamnya. Reno yang berada di sampingku hanya terdiam sambil mencengkram erat pundakku. Dalam surat itu aku menemukan tulisan tua dalam bahasa Inggris yang bertuliskan,
Dear my lovely daughter,
When you read this letter, that’s mean you’ve known who you are. I never meant to leave you where ever you’ve been found, specially with people who I don’t know. But I feel glad because I am sure you’re fine. I don’t know where my brother leave you, because it will break the rule. This is not what I and your mother want, but this is your destiny. You can’t run away from your fate. I know this is like something non sense, but I can’t explain this now. I’ll explain everything to you when I meet you (one day). You can angry or blame it to me, but please don’t blame your mother. She never and ever want this happened. Please let us know that you’ve read this letter. You can send us a signal. Just activated the hand watch by push the sign “aktiviert”.
                                                                        With love,
                                                                        Your Family.
 Setelah selesai membaca surat itu, aku segera mencari jam tangan yang dimaksud oleh orang dalam surat itu – yang aku yakini adalah ayahku – untuk mengaktifkan sinyal yang ia maksud. Tak perlu mencari lama, jam itu segera aku temukan di samping tumpukan foto yang belum sempat aku lihat. Pelan-pelan aku membuka kotak kecil tempat jam itu disimpan, lalu seketika itu juga melihat tombol dengan tulisan active dalam bahasa Jerman. Reno yang berada di sampingku merangkul pundakku dengan erat sebagai simbol bahwa dia mendukungku. Meski ada sedikit keraguan di benakku, aku tetap menekan tombol itu. Ketika aku menekan tombol itu, tiba-tiba aku merasakan tangan Reno yang sejak tadi meremas pundakku terkulai lemas dan seketika itu juga terdengar suara keras dari ruangan. Aku tidak mengerti kenapa semua orang tiba-tiba terkulai seperti pingsan. Tidak ada satu pun orang yang sadar kecuali aku. Aku mencoba untuk menyadarkan diriku dengan mencubit pipiku bahkan memukulkan sendok ke wajahku. Aku tidak mimpi! Aku terdiam dan tiba-tiba aku melihat sekujur tubuhku seakan terbungkus sebuah sinar dan aku tidak ingat apapun lagi.
“ Tier, Tier, kamu ga apa-apa?” Samar-samar aku mendengar suara Reno yang sedang mengguncang-guncangkan tubuhku pelan. Perlahan aku membuka mataku dan mendapati diriku masih berada di cafe hotel. Dengan gerakan cepat aku duduk tegap dan melihat sekelilingku, tapi kepalaku tiba-tiba seakan berdenyut. Kupijit pelan kepalaku dan memutar otak mengingat apa yang sebenarnya terjadi. “ Tierra sayang, kamu ga apa-apa kan?” Tanya Reno sekali lagi seakan meyakinkanku.
“ Tak apa. Aku rasa.” Kataku ragu. Setelah menutup mata dan menarik nafas dalam-dalam, aku mencoba tenang dan bersikap rileks. Aku merasa ada yang berbeda dari tubuhku. Betul saja! Rambutku berbeda begitu juga dengan mataku yang seakan buram saat aku mengenakan kacamataku. Belum sempat mengatakan apa-apa, Reno kembali bertanya, “ Sejak kapan kau menggunakan kacamata, Tierra?” dan kali ini pertanyaannya membuatku sedikit terkejut.
Dengan refleks, aku langsung merenggut tas yang ada di sampingku dan mengambil kaca kecil dari tas make up ku. Kulihat perlahan mataku, hidung, bibir juga rambutku. Hidung dan bibirku tidak ada perubahan, tapi mataku berubah menjadi biru seperti biru laut dan rambutku berubah menjadi ikal panjang berwarna keemasan. Saat itu juga aku tersadar apa yang sebenarnya terjadi. Aku langsung mengambil kotak yang sejak tadi, sepertinya di letakkan Reno di samping kotak tissue. Belum aku berkutit dengan isinya, lagi, Reno menegurku dan memperlihatkan makanan yang sepertinya sudah agak dingin. Dengan pasrah aku terpaksa memakan makanan yang telah di hidangkan meski perutku sudah tak lagi merasa lapar. Kepalaku hanya dipenuhi dengan teka-teki sekarang. Selama makan Reno mencoba mengajakku berbicara, namun pikiranku tetap tidak bisa fokus. Rasanya aku ingin balik ke kamar dan menghempaskan badanku ke kasur. Entah karena aku yang sejak tadi tidak nyambung atau karena Reno mengerti keinginanku, dia mengajakku untuk segera kembali ke kamar.
“ Tierra, kau mau aku temani atau aku pulang saja?” Tanya Reno saat mengantarku masuk.
“ Temani aku ya. Aku sedang tidak ingin sendirian.” Pintaku.
“ Baiklah. Kalau begitu istirahatlah, aku mau mandi dulu.” Kata Reno sembari berlalu masuk ke kamar mandi.
Akhirnya aku menghempaskan badanku ke kasur dan kembali berkutit dengan kotak tua itu. Aku mencari-cari jam yang di ceritakan dalm surat itu, tapi tak bisa aku temukan. Hanya saja, aku menemukan kalung jam tua yang sedikit karatan dengan ukiran Tierra di atasnya. Aku juga merasa, bahwa kalung itu adalah jam yang di maksud di surat itu. Aku menyimpan kembali kalung tua itu dan beralih melihat foto-foto tua yang ada di dalamnya. Di foto itu aku mendapati foto wanita yang sama dengan yang ada di kalungku, ya itu adalah foto Nyonya Kirishima. Kali ini dia tidak sendirian, ada seorang laki-laki yang aku kenal betul sebagai suami nyonya Kirishima dan tiga anak laki-laki juga satu bayi perempuan. Yang satu mirip sekali dengan suami nyonya Kirishima, umurnya mungkin enam tahun dan yang satunya percampuran antara nyonya Kirishima dan suaminya dan usianya mungkin tiga tahun dan yang satu lagi masih bayi begitu juga yang perempuan. Saat melihat bayi perempuan itu aku seperti melihat cermin. Matanya, hidungnya dan bibirnya mirip sekali denganku. Mataku kemudian tertuju kepada tulisan di bagian kiri bawah, “ Kyoko, Frederick, Frans, Rei, Tierra dan James. 9 Oktober 1991. “ Melihat tanggal itu, pikiranku seakan kembali pada kejadian 19 tahun yang lalu. Tanggal 13 Oktober 1991, aku di temukan oleh Suster Regina dan akhirnya tanggal itu menjadi tanggal lahirku hingga sekarang ini, jadi itu berarti foto ini dibuat sebelum aku di bawa ke Panti Asuhan ‘Saint Monica’. Ketika aku membalik foto itu, aku melihat sebuah tulisan, “ This is my family picture. My last memory with my daughter, my everything. I never though that the story must be happened with her. My Tier, I am so sorry to give you this fate. I love you more than everything in this world and I will pay this with my life. I will never and ever forgive myself because of this. Love, Kyoko.”
Air mataku menetes dan kali ini tidak terbendung lagi. Aku rasa pikiranku bahwa aku tidak diinginkan salah besar. Meski aku waktu itu hanya memiliki waktu sebentar, aku tahu bahwa nyonya Kirishima yang kali ini aku yakini bahwa dialah ibuku, adalah orang yang baik dan tidak mungkin ia merelakan aku begitu saja. Aku ingin bertemu dengannya, bertemu dengan Ibu, Ayah juga saudara-saudaraku. Tangisku pecah. Aku menyadari Reno memelukku dengan erat dan tangisku semakin menjadi-jadi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar