Selasa, 31 Januari 2012

Aku cinta Indonesia,
AKu cinta alam dan budayanya
Aku bangga terhadap " BHINEKA TUNGGAL IKA"
Aku bangga terhadap "PANCASILA" sebagai dasar ideologi negara.

PANCASILA,
dasar negara Indonesia,
panutan bagi setiap hukum yang diberlakukan di Indonesia,
alas bagi setiap norma yang ada,
dasar bagi perbedaan untuk bersatu menjadi sebuah kesatuan
pegangan bagi setiap rakyat untuk menjunjung hak yang sama
pegangan bagi setiap rakyat untuk menjadikan musyawarah menjadi alat untuk mencapai sebuah mufakat.

Indonesia ku
mengapa engkau seringkali menangis?
mengapa air matamu tak kunjung reda?
masalah demi masalah menghadang,
permusuhan demi permusuhan meningkat,
pertikaian-pertikaian semakin merenggut nyawa,
hak - hak untuk hidup pun berangsur-angsur hilang.

demo dimana-mana,
ormas-ormas yang mengatasnamakan agama semakin banyak,
pertikaian antar rakyat dan aparat semakin tinggi,
korupsi pun bukannya reda, justru makin meningkat.

yang kaya makin kaya,
yang miskin justru makin terpuruk.
anak jalanan semakin banyak,
narkoba dan miras maki merajalela.
pendidikan seakan hanya diberlakukan bagi orang yang mampu,
sedangkan di pedalaman-pedalaman,
anak-anak jalanan,
di desa-desa pinggiran,
kualitas pendidikan yang ada pun hanya seadanya.

nasi yang selama ini menjadi santapan kita,
sayur mayur yang selalu kita makan,
mereka tak lebih datang dari tangan para petani yang bekerja siang dan malam,
menunggu musim panen tiba sehingga mereka mampu menjual hasil sawahnya.
tetapi,
tetap saja hasil yang mereka tuai tak sesuai dengan harga yang mereka beli.
di pasar tradisional maupun di supermarket,
harga bahan pangan seakan melesat tinggi,
akan tetapi apa kita tahu berapa yang para petani dapatkan dari hasil mereka menjual panennya?
jangan tutup mata hatimu untuk melihat mereka yang kesusahan

rumah - rumah gedong seakan makin menjulang ke langit,
tanpa melihat mereka-mereka yang ada di sekitar kita,
jangankan tempat tinggal yang layak,
makanpun belum tentu bisa.

puskesmas yang di berikan pemerintah untuk mereka yang tidak mampu,
seperti sebuah layanan yang bukannya memberikan kualitas terbaik,
tetapi memberikan kualitas yang juga asal-asalan.

kemana mata hati mu,
wahai petinggi-petinggi negara?
kemana nurani mu,
wahai bapak/ibu pejabat?

memboyong mobil mewah melintasi jalan raya,
yang dipinggirannya penuh dengan orang-orang miskin yang butuh tumpangan tangan?
datang ke tempat-tempat elite,
dan mampu menghabiskan uang sampai jutaan rupiah,
padahal di pinggiran kota, di bawah remang-remang kota, di pinggiran kali yang jorok,
mereka tinggal hanya beralas kardus.

katanya Indonesia adalah negara yang walaupun berbeda-beda tetapi tetap satu,
tapi mengapa diskriminasi agama,
pihak-pihak intoleran yang mengatasnamakan agama,
semakin menjadi-jadi?
sesama orang beragama saling menyerang, bahkan saling menyakiti,

orasi demi orasi di lakukan,
penghancuran-penghancuran di kembang biakkan,
orag-orang tidak bertanggung jawab meraja lela,
hingga mereka yang minoritas seakan tak berhak untuk mendapatkan hak mereka beribadah di tanah airnya sendiri.

mari kawan-kawan,
mari kita sama-sama buka mata hati kita untuk sama - sama melihat,
sama-sama merasakan,
sama-sama peduli
atas semua kepedihan, kepahitan, kesengsaraan mereka yang mereka rasakan.
mulai sama-sama kita satukan tangan kita untuk saling membantu,
kita satukan tangan kita untuk saling membangung,
kita satukan semangat dan tekad kita untuk sama-sama berjuang,
membangun kembali bangsa negara kita,
menjadi bangsa negara Indonesia yang jaya, makmur dan sejahtera.


(statement ini saya buat dari apa yang saya lihat di lapangan, dari apa yang saya dengar, dan dari kawan-kawan saya yang saya ajak berbicara.

Makasih kepada Mbak Rina dan keluarga, teman-teman dari Pabrik, teman-teman di proyek (baik tukang sampai OB), temen-temen di NU Globe, juga kawan-kawan aktifis GMKI, GMNI, PMKRI, juga saudaraku di GKI Yasmin.)